Journey to The Past with AirAsia

DSC_0165_1

Sendiri, memandang indah hamparan sawah hijau berlatar belakang sunrise yang berpendar kemerahan, ditemani kicau burung serta tatapan tajam Sang Budha setinggi lebih dari 3 meter membuat suasana pagi itu terasa damai, indah, mistis dan seperti kembali ke masa lampau.

Mei 2014, dengan berbekal sedikit informasi dari Internet, dalam rangkaian perjalanan saya di negara Laos dan Thailand selama kurang lebih 2 minggu, saya menyempatkan diri berkunjung ke Sukhothai, sebuah kota kuno yang menjadi ibukota negeri Siam (kini Thailand) pertama kali. Dengan menggunakan sepeda onthel, pagi itu saya bergegas menuju ke Wat Saphan Hin, kurang lebih 4 km dari Sukhothai Historical Area untuk menyaksikan sunrise. Bukan perjuangan yang mudah sepertinya karena temple ini terletak di atas bukit dan untuk mencapainya saya harus mengeluarkan energi ekstra. Tetapi semua terbayarkan ketika saya dapat melihat pemandangan sunrise yang sangat indah dari atas bukit terlebih lagi ditemani oleh gagahnya patung Sang Budha. Pagi itu hanya ada saya dan Sang Budha di temple itu sehingga rasanya seperti benar-benar terbawa ke masa silam, masa di mana Sukhothai menjadi pusat peradaban Siam.

Budha Statue Sukhothai Historical Area
Budha Statue
Sukhothai Historical Area

Saya adalah seorang pecinta sejarah. Bagi saya, sebuah tempat wisata yang merupakan warisan budaya leluhur ataupun buah karya kolonialisme menjadi sesuatu yang ingin saya nikmati dan eksplore lebih dalam. Tidak perlu jauh-jauh, Indonesia yang memiliki latar belakang budaya leluhur yang sangat tinggi, menjadi salah satu tempat temple-temple super ciamik berada, sebut saja Candi Borobudur, Prambanan, Istana Ratu Boko dsb. Bagi saya, berkunjung ke sebuah temple tidak hanya berkutat seputar narsisme dengan gaya super lebai, tetapi merasakan dan berimajinasi ke masa lalu menjadi hal menarik tersendiri buat saya. Tentu saja mempelajari sejarahnya tidak boleh terlewatkan.

 Bagi saya, sebuah tempat wisata yang merupakan warisan budaya leluhur ataupun buah karya kolonialisme menjadi sesuatu yang ingin saya nikmati dan eksplore lebih dalam

Kecintaan saya pada peninggalan sejarah membawa saya kebanyak tempat. Sebut saja Angkor Wat, masterpiece peninggalan kerajaan Angkor di Cambodia, Ayutthaya, kota kuno yang penuh dengan reruntuhan di Thailand, Luang Prabang, heritage site dengan jati diri yang kuat di Laos dan beberapa kota lain yang juga dinobatkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO seperti Penang dan Malaka di Malaysia.

 

Street Art Penang Malaysia
Street Art
Penang Malaysia

Saya sangat menyukai tempat wisata sejarah yang sepi. Alasannya sangat sederhana karena saya dapat lebih leluasa menikmati spot-spot menariknya dan saya lebih khusyuk berimajinasi ke masa lampau. Waktu berkunjung favorit saya adalah pagi hari dan petang. Selain udara yang segar dan suasana yang sepi, buat saya waktu-waktu tersebut lebih terasa mistis. Duduk di rerumputan hijau komplek Wat Mahathat di Ayutthaya, berburu mural di Georgetown Penang, menikmatsi sore hari yang tenang di pelataran kuno Istana Ratu Boko Yogyakarta, berimajinasi berburu harta karun di Ta Prohm-Cambodia bak Lara Croft, menanti sunset di belakang eksotisnya walking Budha Sukhothai serta menaiki trem kuno peninggalan kolonialisme di Victoria Peak Hongkong merupakan beberapa momen yang tak akan terlupakan. Bagi saya, semakin banyak tempat-tempat bersejarah yang saya kunjungi semakin saya ingin datang dan datang lagi ke tempat-tempat bersejarah yang baru di belahan bumi yang lain. Menjadi mimpi besar saya untuk dapat berkunjung ke lebih banyak tempat bersejarah di seluruh dunia.

Narsisme Istana Ratu Boko Yogyakarta
Narsisme
Istana Ratu Boko
Yogyakarta

Beberapa tahun silam, sepertinya berkunjung ke tempat tempat bersejarah nan eksotis menjadi hal yang sangat mewah. Harga pesawat selangit ditambah susahnya akses menuju lokasi menjadi constrain besar yang dipertimbangkan oleh banyak orang. Akhirnya Tuhan mengirimkan AirAsia. Sebuah low cost airlines yang menawarkan sejuta kemungkinan untuk berkunjung tempat-tempat bersejarah favorit saya.

Saya adalah bukti nyata hasil kerja keras AirAsia team. Beberapa kali traveling, saya mendapatkan tiket promo AirAsia. Sebagai contoh, saat berkunjung ke Laos saya cukup membayar kurang lebih Rp.450,000 all in termasuk satu tiket ke Kuala Lumpur terlebih dahulu, belum lagi ketika berkunjung ke Cambodia via Vietnam, saya mendapatkan tiket promo AirAsia Jakarta-Ho Chi Minh City pulang pergi hanya sebesar Rp.800,000 all in. Sungguh berkah financial buat saya.

Air Asia My Hero
AirAsia
My Hero

Selain murahnya harga tiket pesawat, rute penerbangan yang ditawarkan oleh AirAsia juga sangat beragam khususnya ke kota-kota bersejarah favorit saya seperti Penang, Siem Reap, Chiang Mai, Taipei, Xi’an-China bahkan AirAsia Thailand saat ini telah memiliki rute ke kota Phitsanulok, kota terdekat dengan Sukhothai Historical Area.

Ketika beberapa tahun silam saya hanya dapat menikmati masa lalu sebuah peradaban melalui buku ataupun tayangan televisi, saat ini saya dapat secara langsung datang dan menikmatinya, tentu saja salah satunya berkat AirAsia. That’s why I called that AirAsia has changed my life. Saya yakin di masa-masa mendatang AirAsia akan membantu saya mewujudkan mimpi-mimpi saya untuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah nan eksotis yang lain.

Akankah Nepal menjadi salah satunya?

 

Tulisan ini didedikasikan untuk Air Asia dan menjadi salah satu tulisan dalam kompetisi Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia

2 thoughts on “Journey to The Past with AirAsia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s